Indobangkit.com Surabaya, –
Di ruang perawatan yang sunyi itu, berbisik di dalam hati meminta kesembuhan anaknya. Boncu, pria yang dikenal keras, urakan, dan jauh dari kata menyerah, duduk dengan kepala tertunduk. Di samping ranjang, tubuh tegap anaknya terbaring lemah, terinfus, dan terlihat mulai terbebas dari virus (DBD).
Boncu memandang anaknya dengan tatapan kosong, matanya berkaca-kaca. Lalu, dengan suara bergetar penuh tangis, ia berkata lirih:
“Yo iki seng tak enteni… Cobo seng gawe goyang ati… Maturnuwun Gusti, akhire aku eleng nek aku iki mahluk.” ucapnya lirih sambil menyeka airmata nya.
Air matanya jatuh tanpa bisa dibendung. Bukan hanya tubuhnya yang lemas, tapi seluruh jiwanya terasa kosong. Inilah saat ia merasa bahwa cobaan hidup ini bukan hanya sebuah ujian, tapi juga kasih sayang dari Allah yang datang untuk menyadarkan dirinya. Sebuah kesempatan yang diberikan untuk menghapus dosa-dosanya yang telah lalu.
Tuhan, dengan cara-Nya yang paling lembut namun menyentak, menunjukkan kepada Boncu bahwa selama kita masih diberi cobaan, itu adalah cinta-Nya yang tak pernah berhenti, yang mengingatkan kita untuk kembali pada-Nya. Cobaan adalah cara Allah menebus dosa-dosa kita, membuka hati kita yang telah lama tertutup.
“Aku kenal Boncu, aku bisa merasakan rasa sakitnya. Ini saat yang membuat aku sadar, kasih sayang Allah itu datang lewat cara yang kadang tak pernah kita duga. Semoga anaknya sembuh dan Boncu benar-benar kembali ke jalan-Nya,” ujar Nur wahyudi, salah seorang sahabat yang tidak pernah ada saat di butuhkan
Di media sosial, air mata banyak yang jatuh setelah membaca berita ini. Komentar penuh simpati memenuhi layar.
“Aku cuma bisa terdiam baca ini. Kadang, Allah gak butuh suara petir buat menyadarin kita. Cukup dengan buah hati yang terbaring lemah, Dia mengingatkan kita bahwa hidup ini sangat rapuh,” tulis @sahabatlangit.
“Aku gak kuat baca ini. Boncu, seorang pria yang keras, tapi melihat dia berbicara dengan penuh penyesalan, aku langsung ingat anakku. Tuhan, semoga dia kembali ke jalan yang benar,” ujar Bapak jak sandoro sahabat yang juga saat itu menyaksikan rapunya seorang Boncu
Malam itu, ada yang berubah. Di ruang yang penuh ketegangan itu, seorang ayah merasakan bahwa segalanya bisa hilang dalam sekejap. Dan mungkin, ini adalah cara Tuhan membalikkan hatinya—sebuah momen yang begitu sederhana namun begitu mendalam, yang membawa Boncu pada kesadaran bahwa selama kita masih dikasih cobaan, itu adalah kasih sayang Allah yang datang untuk menebus dosa-dosa kita.
“Semoga ini titik balik. Allah memberikan cobaan bukan untuk menghukum, tapi untuk mengingatkan kita betapa besar kasih-Nya. Dan semoga Boncu kembali, bukan hanya untuk anaknya, tapi juga untuk dirinya sendiri,” tulis @ummuanisa_ dengan mata berkaca-kaca.
Dan dalam kesunyian malam itu, Boncu merasakan kasih sayang Allah yang tak pernah meninggalkannya. Semoga ujian ini menjadi awal dari perubahan sejati dalam hidupnya, dan menjadi jalan untuk menebus segala dosa-dosanya yang pernah ia lakukan.(Red).
Tidak ada komentar