SMPN 1 Babat Buang Sampah ke TPS Liar, Kepala Sekolah M. Munir Disorot: Pendidikan Karakter Dipertanyakan

waktu baca 3 menit
Selasa, 18 Nov 2025 05:52 0 33 Mei Swandini

Indobangkit.com LAMONGAN,
Dugaan pembuangan sampah oleh SMPN 1 Babat ke TPS liar di Desa Plaosan, Babat, Lamongan kini memancing gelombang kritik keras. Bukan hanya soal kebersihan dan lingkungan, tetapi juga menyentuh jantung dari pendidikan karakter yang selama ini selalu digembar-gemborkan dunia pendidikan.

Dalam video yang beredar, sebuah kendaraan pengangkut sampah berwarna hijau, yang diduga milik SMPN 1 Babat, terlihat menurunkan tumpukan sampah ke lokasi pembuangan tidak resmi. Padahal area tersebut selama ini menjadi sumber bau busuk dan keluhan warga, bahkan mengganggu kegiatan car free day setempat.

Kini, sorotan publik tertuju langsung kepada Kepala Sekolah SMPN 1 Babat, M. Munir, yang dianggap memikul tanggung jawab penuh atas praktik pengelolaan sampah di lingkungan sekolah.

Pemerhati lingkungan, Supriyanto menilai, jika benar sampah sekolah dibuang sembarangan, maka sekolah telah mengajarkan paradoks yang mencolok: di ruang kelas siswa diajari disiplin, tanggung jawab, dan kepedulian lingkungan, namun praktik institusi justru menunjukkan sebaliknya.

“Bagaimana kami bisa percaya dengan pendidikan karakter kalau lembaga pendidikannya sendiri diduga mencederai nilai itu?” ujarnya dengan nada geram.

Pendidikan karakter tidak selesai pada tulisan di dinding sekolah, slogan, atau modul pembelajaran. Ia harus tercermin dalam tindakan nyata—terutama oleh para pendidik dan pimpinan sekolah. Karena itu, dugaan pelanggaran pengelolaan sampah ini dianggap bukan isu kecil; ia menyentuh reputasi moral sebuah institusi pendidikan.

Sebagai kepala sekolah, M. Munir dituntut memberi teladan. Dalam konsep manajemen sekolah modern, kepala sekolah bukan hanya administrator, tetapi role model yang menentukan arah budaya sekolah.

Namun tudingan bahwa sampah SMPN 1 Babat dibuang ke TPS liar, apabila benar, menunjukkan lemahnya penerapan nilai:
– tanggung jawab,
– kepedulian terhadap lingkungan,
– keteladanan,
– dan akuntabilitas publik.

Nilai-nilai yang justru menjadi roh dari pendidikan karakter.

Diamnya pihak sekolah hingga kini semakin memicu pertanyaan besar. Publik menilai, institusi pendidikan tidak boleh bersembunyi di balik tembok diam, apalagi ketika video sudah beredar dan dampaknya dirasakan masyarakat luas.

Para pemerhati lingkungan menyebut persoalan ini sebagai ironi pendidikan. Menurut mereka, sekolah yang seharusnya melahirkan generasi berkarakter justru diduga melanggar prinsip dasar kelestarian lingkungan.

Mereka meminta Dinas Lingkungan Hidup Lamongan segera melakukan penelusuran alur pembuangan sampah SMPN 1 Babat, sekaligus meminta klarifikasi resmi dari kepala sekolah.

Hingga berita ini diturunkan, M. Munir belum memberikan pernyataan. Padahal, dalam isu pendidikan karakter, keteladanan pemimpin adalah tiang utamanya.

Jika dugaan ini benar terjadi, maka masalah ini bukan sekadar soal sampah. Ini adalah kegagalan serius dalam menanamkan nilai moral kepada siswa, karena pendidikan karakter tidak akan pernah bisa hidup dari mulut yang berkata, tetapi dari tindakan yang diperlihatkan.

Dan publik kini menuntut tindakan, bukan alasan. (Bnc)

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

    LAINNYA