
Indobangkit.com Gresik, –
Pukul 01.00 dini hari, di saat sebagian besar pejabat masih terlelap dalam hangatnya selimut dan kesunyian malam, kepala desa GF memilih bergerak. Salah satu kepala desa, Kecamatan Duduksampeyan, ini hadir langsung di RSUD Ibnu Sina Gresik demi satu hal: rasa peduli, mendampingi dan mengurus penuh pengobatan rekannya, Kepala Desa Kesamben Kulon, Aspari, yang tengah menderita sakit batu ginjal.
GF tak sekadar hadir. Ia yang mengambil alih seluruh proses, mulai dari administrasi, pengisian data pasien, hingga pemesanan kamar rawat inap. Semua diurus tuntas, tanpa menunggu instruksi, tanpa protokoler, dan tanpa publikasi—hanya dorongan batin untuk membantu sahabat yang sedang terkapar.
Dalam kondisi darurat, saat keluarga Aspari panik dan bingung menghadapi prosedur rumah sakit, GF berdiri sebagai jembatan. Ia menjadi penenang, menjadi pengurus, dan menjadi penggerak yang memastikan rekannya mendapat penanganan medis secepat mungkin. Tak ada ajudan, tak ada rombongan, hanya seorang kepala desa yang mengandalkan empati sebagai pegangan.
Loyalitas dan jiwa solidaritas GF teruji nyata. Ia menunjukkan bahwa relasi antar kepala desa bukan sekadar formalitas struktural, melainkan ikatan kemanusiaan yang hidup dan bergerak di saat paling genting. Ketika jabatan sering kali membuat seseorang merasa tinggi dan berjarak, GF justru menanggalkan ego, menyingsingkan lengan, dan turun tangan langsung.
Tindakan ini bukan pencitraan, bukan pula bagian dari rutinitas seremonial. GF hadir dalam senyap, mengambil tanggung jawab, dan bertindak cepat. Di tengah dinginnya birokrasi dan banyaknya pejabat yang hanya reaktif saat sorotan media datang, GF memberi contoh: solidaritas sejati diuji ketika tak ada kamera yang merekam.
Pihak keluarga mengaku sangat terbantu. “Kami sempat bingung karena baru pertama kali menghadapi situasi ini. Tapi Pak GF yang ngurus semua, dari A sampai Z. Bahkan kami baru tahu setelah beliau selesai semua,” ujar salah satu kerabat Aspari.
Langkah kecil di tengah malam itu menjadi gambaran besar tentang kepemimpinan yang melampaui batas administratif. Kepemimpinan yang lahir dari kepekaan, bukan dari instruksi. GF menunjukkan bahwa menjadi pemimpin bukan soal kuasa, tapi soal rasa: rasa peduli, rasa tanggung jawab, dan rasa kemanusiaan yang terus hidup, bahkan di saat yang paling sunyi.
Kepala desa GF dengan halus melarang wartawan untuk publikasikan hal ini, dirinya tidak mau apa yang ia lakukan menjadi fitnah masyarakat dan teman – temannya dan menjadikan sifat sombong, namun karena apa yang di lakukan GF ini sudah langkah dan jarang sekali di tamui di dunia modern, maka sebagai apresiasi awak media kepada kepala desa GF hal ini di jadikan tulisan supaya bisa mengetuk jiwa umat manusia lainnya
GF saat mengetahui apa yang di lakukan pada malam itu akan di publikasikan, dirinya seketika itu juga mematikan telfon gaenggam miliknya, menandakan dirinya tidak mau apa yang di lakukan di ketahui orang lain.(bnc)
Tidak ada komentar