Pagelaran Wayang Kulit Lakon Bima Suci Semarakkan Malam Budaya di Pendopo Kabupaten Tulungagung

waktu baca 2 menit
Kamis, 20 Nov 2025 23:27 0 33 Mei Swandini

Tulungagung, IndoBangkit.com — Suasana Pendopo Kongas Arum Kusumaning Bongso, Kabupaten Tulungagung, Kemis (20/11/2025) malam, dipenuhi gemerlap cahaya blencong dan alunan gamelan ketika pagelaran wayang kulit dengan lakon Bima Suci digelar sebagai rangkaian acara malam budaya daerah. Ratusan warga tampak antusias memadati pendopo untuk menyaksikan salah satu lakon klasik yang sarat nilai filosofi ini.

Pagelaran ini menghadirkan dalang kondang dari wilayah Jawa Timur, yang sukses memukau penonton lewat kepiawaiannya menghidupkan karakter Bima dalam perjalanan spiritual mencari “ngelmu kasampurnan”. Sejak adegan jejer pembuka, penonton sudah terseret ke dalam alur kisah yang menonjolkan keteguhan, keberanian, serta pencarian jati diri.

Bupati Tulungagung yang hadir dalam acara tersebut menyampaikan bahwa pagelaran seni tradisi seperti wayang kulit merupakan bagian penting dari upaya pelestarian budaya lokal. “Wayang bukan sekadar tontonan, tetapi juga tuntunan. Lakon Bima Suci mengajarkan kita tentang keteguhan hati dan perjuangan meraih kesempurnaan budi. Nilai-nilai itu perlu terus ditanamkan pada generasi muda,” ujarnya.

Selain menjadi sarana hiburan, pementasan ini juga bertujuan memperkuat identitas budaya masyarakat Tulungagung. Pendopo kabupaten yang menjadi pusat kegiatan pemerintahan dan kebudayaan ini kembali membuktikan diri sebagai ruang publik yang hidup untuk kegiatan seni tradisi.

Selama pertunjukan berlangsung, para penonton terlihat sangat menikmati setiap adegan, terutama saat Bima memasuki samudra dan menemui Dewa Ruci—momen yang menjadi inti dari ajaran spiritual dalam lakon ini. Sorak kagum beberapa kali terdengar, terutama dari kalangan muda yang baru pertama kali menyaksikan lakon tersebut secara langsung.

Acara ditutup menjelang dini hari dengan pesan moral dari dalang mengenai pentingnya menjaga keluhuran budaya bangsa di tengah derasnya arus modernisasi. Masyarakat berharap pemerintah daerah terus rutin menyelenggarakan kegiatan serupa agar seni tradisi tidak sekadar menjadi warisan, tetapi tetap hidup dan dicintai lintas generasi.

Dengan terselenggaranya pagelaran wayang kulit ini, Tulungagung sekali lagi menegaskan komitmennya dalam mempertahankan warisan budaya Nusantara melalui ruang-ruang publik yang inklusif dan edukatif.

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

    LAINNYA