
Indobangkit.com BLITAR, 15 Agustus 2026 — Di tengah arus zaman yang terus berubah, masih ada secercah harapan bagi salah satu kesenian tradisional paling adiluhung dari tanah Blitar, yaitu Mocopat. Kesenian yang sarat makna dan nilai luhur ini kini terancam punah, namun tetap dijaga dengan penuh kesungguhan oleh Kelompok Mocopat Se-Blitar Raya.

Kelompok ini dipimpin oleh Ki Raban, dengan Ki Purwanto menjabat sebagai Sekretaris, dan Ki Suwito sebagai Bendahara. Bersama-sama mereka mempersatukan para pecinta dan pewaris Mocopat dari berbagai penjuru wilayah Blitar Raya, dengan satu tujuan mulia: nguri-nguri budaya, yakni melestarikan, menghidupkan kembali, dan mewariskan nilai-nilai luhur yang terkandung di dalamnya kepada generasi mendatang.
Sebagai wujud kesungguhan tersebut, kegiatan latihan dan pertunjukan rutin dilaksanakan setiap hari Sabtu Wage di Pendopo Ronggo Warsito, Kabupaten Blitar. Di tempat itu, para anggota berkumpul, melantunkan syair, menata irama, dan menghayati setiap gerak serta makna yang tersirat dalam Mocopat, agar warisan leluhur ini tidak hilang ditelan masa.
Filosofi Luhur di Balik Kesenian Mocopat
Mocopat bukan sekadar kesenian bersyair atau bernyanyi biasa. Di setiap baris syair, nada, dan iramanya tersimpan filosofi yang sangat dalam dan adiluhung:
✅ Menumbuhkan Kesadaran Diri — Syair-sair dalam Mocopat sering kali mengingatkan manusia untuk mengenal siapa dirinya, dari mana asalnya, serta menyadari keterbatasan dan keagungan Tuhan. Mengajarkan kerendahan hati dan tidak sombong.
✅ Jalan Menuju Kesempurnaan Hidup — Irama dan lantunan Mocopat bukan sekadar menghibur, melainkan menjadi sarana pengendalian diri, penyucian hati, dan upaya mendekatkan diri kepada Sang Pencipta. Lantunannya mengajak jiwa untuk tenang, damai, dan berserah diri dengan tulus.
✅ Keharmonisan dan Persatuan — Seperti irama yang tersusun rapi dan selaras, Mocopat juga melambangkan kehidupan bermasyarakat. Setiap orang memiliki peran dan kedudukannya masing-masing, namun apabila bersatu dan saling melengkapi, akan tercipta keindahan, kedamaian, dan kesejahteraan bersama.
✅ Pengingat akan Nilai Kehidupan — Banyak syair Mocopat yang berisi nasihat kehidupan, petuah agar hidup berbudi luhur, jujur, menghormati orang lain, serta senantiasa berbuat baik dan menjaga kesusilaan dalam setiap tingkah laku.
✅ Cinta Tanah Air dan Warisan Leluhur — Melestarikan Mocopat berarti menghargai jasa para pendahulu, menjaga identitas bangsa, dan membuktikan bahwa nilai-nilai lama yang baik tetap relevan menjadi pedoman hidup di masa kini dan masa depan.
Terancam Punah, Namun Tetap Teguh Berdiri
Sayangnya, kesenian yang penuh keindahan dan makna ini kini semakin jarang dikenal dan diminati. Semakin sedikit generasi muda yang mengenal, mempelajari, maupun melestarikannya, sehingga Mocopat kini masuk dalam kategori kesenian yang hampir punah.
Namun, Kelompok Mocopat Se-Blitar Raya tidak menyerah. Di bawah kepemimpinan Ki Raban serta dibantu Ki Purwanto dan Ki Suwito, mereka terus berjuang. Setiap Sabtu Wage di Pendopo Ronggo Warsito menjadi bukti nyata: selama masih ada yang peduli, selama masih ada yang berusaha menjaga, maka warisan budaya adiluhung ini tidak akan pernah lenyap.
Semoga langkah mulia ini menjadi teladan, agar semakin banyak orang—terutama generasi muda—turut bergandengan tangan, ikut menjaga, dan melestarikan Mocopat. Agar suara lantunan syair Mocopat Blitar tetap terdengar, terus hidup, dan menjadi kebanggaan kita selamanya. (Supriyono)
Tidak ada komentar