
Indobangkit.com Di saat sang surya menampakan cahayanya di Alun-Alun Kota Bangkalan, suasana perlahan-lahan jadi riuh dipenuhi suara dalam barisan prajurit TNI Angkatan Darat, unsur pemerintah daerah, kepolisian dan warga masyarakat. Pagi itu, dimana tempat yang biasanya menjadi ruang aktivitas warga berubah menjadi saksi dimulainya Bakti TNI AD untuk Rakyat Tahun 2026 di Pulau Madura.
Di tempat terbuka tersebut, berbagai unsur dan instansi termasuk warga masyarakat menyatu dalam satu momentum pengabdian. Harapan masyarakat Madura untuk mendapatkan kehidupan yang lebih baik bertemu dengan semangat prajurit TNI AD yang hadir di tengah rakyat. Dari sinilah denyut nadi masyarakat mulai di tautkan melalui momentum kebersamaan dalam semangat gotong royong yang diarahkan langsung pada kebutuhan warga.
Bagi masyarakat Madura Bakti TNI AD ini merupakan agenda penting dimulainya agenda pembangunan yang menyasar kebutuhan hidup yang mereka hadapi sehari hari, mulai dari jembatan yang aman, akses air bersih yang sehat untuk dikonsumsi, sekolah yang nyaman hingga pelayanan kesehatan yang mudah dijangkau.
Program tersebut mencakup empat wilayah kabupaten di Pulau Madura, yakni Kabupaten Bangkalan, Sampang, Pamekasan dan Sumenep. Pelaksanaannya berlangsung selama dua bulan, mulai 1 Juli hingga 31 Agustus 2026. Sasaran yang dibangun meliputi infrastruktur dasar serta kegiatan non fisik, seperti rumah layak huni, fasilitas pendidikan, pelayanan kesehatan dan kegiatan sosial kemasyarakatan.

Foto :Pembukaan Bakti TNI AD untuk Rakyat tahun 2026.
Pembangunan dimulai dari Kebutuhan Warga
Pulau Madura selain memiliki kekayaan alam yang beragam juga dikenal dengan sebutan pulau Garam. Selain memiliki kekayaan alam yang beragam, wilayah ini juga mempunyai bahasa dan budaya khas yang menjadi identitas masyarakatnya. Letaknya yang berdekatan dengan pulau Jawa aksesnya mudah karena terhubung langsung dengan adanya jembatan Suramadu yang tidak dimiliki oleh pulau lainnya. Letak geografisnya yang terdiri dari pulau pulau kecil di sebagian wilayah menghadirkan tantangan geografis tersendiri.
Terbentangnya jarak antardaerah, kondisi jalan yang menghubungkan antar wilayah, keterbatasan sarana air bersih serta akses layanan publik masih menjadi persoalan bagi sebagian warga terutama di pelosok dan daerah terpencil dalam menjalankan aktivitas sehari-hari.
Kehadiran Bakti TNI AD tahun ini diarahkan untuk menjawab semua kebutuhan tersebut yang tersebar di seluruh wilayah pulau Madura. Sejumlah sasaran fisik telah disiapkan diantaranya pembangunan 33 jembatan, pengeboran 52 sumur, pembangunan atau pemugaran 20 rumah ibadah, renovasi 400 rumah tidak layak huni beserta fasilitas mandi, cuci, kakus (MCK), rehabilitasi sekolah serta pembenahan panti asuhan.
Sementara untuk sasaran non fisik mencakup beberapa kegiatan sosial dan pelayanan kesehatan seperti operasi katarak, khitanan massal, donor darah, pemeriksaan kesehatan, bakti lingkungan, penanaman pohon serta pemberian kaki palsu dan kursi roda kepada masyarakat yang membutuhkan.
“Kami sangat membutuhkan air bersih yang layak untuk dikonsumsi, rumah yang lebih layak untuk di tempati, fasilitas sekolah yang nyaman dan pelayanan kesehatan bagi masyarakat yang kurang mampu,” ujar Pak Marmo, warga Sumenep.
Menurut Pak Marmo kehadiran prajurit TNI AD di tengah masyarakat memberikan semangat tersendiri. Warga merasa semua permasalahan yang terjadi mendapat perhatian dari berbagai pihak terutama pemerintah.
“Saya mengucapkan banyak terima kasih kepada TNI AD dan pemerintah. Semoga semua fasilitas yang dibangun dapat digunakan dengan baik, bermanfaat dan dirawat bersama,” tambahnya.
Jembatan yang Menghubungkan Harapan Hampir di sejumlah desa terpencil dan pelosok di Madura, jarak bukan satu-satunya yang menjadi permasalahan. Sulitnya akses seperti jembatan putus akibat bahan yang digunakan dari kayu jenis bambu menyebabkan sering putus yang mengakibatkanaktivitas masyarakat harus berputar lebih jauh jarak tempuh yang dilalui dalam beraktivitas sehari-hari.
Kondisi ini dirasakan langsung oleh masyarakat Desa Palo’lo’an, Kecamatan Gapura, Kabupaten Sumenep. Jembatan Kadhempol menjadi satu-satunya akses utama yang menghubungkan sejumlah dusun untuk bekerja, berangkat menuju sekolah dan membawa hasil pertanian.
“Semua aktivitas sehari hari melalui jembatan bambu tersebut. Anak-anak pergi sekolah dan para petani ke ladang maupun sawah. Kami berharap semoga setelah selesainya pembangunan jembatan beton ini membuat perjalanan efektif, lancar dan lebih aman,” ujar Pak Marmo.
Seperti yang disampaikan Kepala Desa Palo’lo’an, Sunaryo, mengatakan bahwa Jembatan Kadhempol merupakan jalur vital bagi masyarakat karena menjadi akses utama dalam menjalankan berbagai aktivitas sehari-hari. Jika sudah diperbaiki akan mempermudah masyarakat dalam beraktivitas.
“Jembatan ini adalah satu-satunya akses utama masyarakat Desa Palo’lo’an dalam beraktivitas baik yang pergi ke sekolah maupun yang pergi ke ladang dan sawah,” ujarnya.
Pada tahap awal ini Babinsa Koramil 0827/16 Gapura, Koptu Lucky Vecky Tania bersama warga masyarakat melakukan pembersihan di lokasi jembatan sebagai langkah tahap awal pembangunan jembatan dimulai sebelum pekerjaan konstruksi dilaksanakan.
“Saat ini kami fokus untuk membersihkan di sekitar area jembatan. Setelah itu selanjutnya akan dilanjutkan dengan pekerjaan penggalian dan pembangunan pondasi,” ujarnya.
Seluruh warga Desa Palo’lo’an sangat antusias dalam kegiatan pembersihan tersebut, mereka berharap pembangunan jembatan beton akan mempersingkat perjalanan dan mempermudah akses serta fasilitas yang lebih aman

Foto :Pembersihan jembatan oleh Babinsa dan masyarakat desa Palo’lo’an
Mengalirkan Air, Meringankan Beban Warga
Persoalan lain yang tidak kalah pentingnya selain pembangunan akses jembatan adalah ketersediaannya kebutuhan air bersih terutama di wilayah kepulauan Kabupaten Sumenep. Kondisi geografis tersebut membuat sebagian masyarakat sering menghadapi kekeringan dan keterbatasan sumber air bersih.
Di Pulau Raas salah satu wilayah kepulauan di Sumenep mendapat perhatian khusus dalam pelaksanaan Bakti TNI AD tahun 2026 ini. Prioritas kegiatan yang dilaksanakan adalah pengeboran Sumur untuk memenuhi tersedianya kebutuhan sarana air bersih bagi masyarakat.
Komandan Kodim 0827/Sumenep, Letkol Inf Citra Persada, mengatakan bahwa penentuan sasaran program dilakukan melalui koordinasi dengan Pemerintah Kabupaten Sumenep agar kegiatan yang dilaksanakan sesuai dengan kebutuhan masyarakat.
“Kami selalu berkoordinasi dengan Pemkab Sumenep tentang program yang dibutuhkan. Terutama kebutuhan sarana air bersih bagi warga merupakan kebutuhan dasar yang belum terpenuhi dengan baik,” kata Dandim.
Seperti apa yang telah terdengar dan sering dikabarkan bahwa di Pulau Raas menjadi salah satu sasaran karena termasuk wilayah yang sering menghadapi kekeringan dan kekurangan air bersih. Pengeboran tersebut sudah dimulai sejak 22 Juli 2026 tepatnya di Desa Poteran, Kecamatan/Kepulauan Raas, besar harapan semoga ditemukan sumber air yang benar-benar layak dikonsumsi oleh warga masyarakat.
“Program Bakti TNI 2026 berupa sumur bor di Pulau Raas ini menjadi bukti bahwa pemerataan pembangunan tidak hanya difokuskan di daratan Madura,” ujar Dandim.
Seluruh warga berharap kehadiran sumur bor ini nantinya dapat mengurangi beban warga, khususnya perempuan dan anak-anak yang sering terlibat dalam kegiatan mengambil air. Waktu yang sebelumnya digunakan untuk mencari air dapat dialihkan untuk belajar, bekerja atau menjalankan aktivitas keluarga.
Air bersih memiliki hubungan dengan masalah kesehatan. Ketersediaan air yang cukup membantu warga menjaga kebersihan rumah, memenuhi kebutuhan sanitasi dan mengurangi risiko penyakit. Karena itu, pembangunan sumur bor bukan sekadar pekerjaan teknis tetapi ini adalah sebagai bagian dari upaya untuk meningkatkan kualitas hidup masyarakat.
Rumah Layak, Keluarga Bermartabat
Rumah yang layak huni dan aman menjadi salah satu kebutuhan penting bagi keluarga yang sehat dalam membangun kehidupan keluarga yang lebih bermartabat. Oleh karena itu, renovasi rumah tidak layak huni termasuk menjadi salah satu sasaran dalam Bakti TNI AD Tahun 2026 di Pulau Madura.
Program tersebut menargetkan renovasi 400 unit rumah tidak layak huni beserta fasilitas mandi, cuci, kakus (MCK). Pemerintah Provinsi Jawa Timur turut memberikan dukungan melalui program RTLH yang dilaksanakan di empat kabupaten di Madura, yakni Bangkalan, Sampang, Pamekasan dan Sumenep.
Salah satu sasaran pelaksanaan renovasi rumah tidak layak huni berlangsung di Dusun Kapasan, Desa Baturasang, Kecamatan Tambelangan. Kabupaten Sampang. Beberapa personel TNI bersama masyarakat bahu membahu saling bersinergi dalam proses pembangunan rumah warga yang membutuhkan tersebut.
Komandan Kodim 0828/Sampang, Letkol Czi Dika Catur Yanuar Anwar, S.T., mengatakan bahwa keterlibatan personel TNI dalam program tersebut merupakan bentuk kepercayaan sekaligus pengabdian TNI AD kepada masyarakat.
“Kegiatan Bakti TNI ini selain sebagai bentuk kepercayaan, pelibatan TNI AD pada program RTLH adalah bentuk pengabdian institusi dalam mengatasi berbagai kesulitan masyarakat,” kata Dandim.
Serka Miran salah satu Personel dari Bintara Pembina Desa (Babinsa) yang dilibatkan berasal di wilayah penerima bantuan bersama masyarakat membantu pembangunan rumah milik Maryam, Desa Baturasang, Kecamatan Tambelangan.
Ibu Maryam sebagai penerima manfaat merasa sangat bangga dan terharu karena rumahnya diperbaiki sehingga lebih aman dan nyaman. Atap Rumah yang sebelumnya bocor dan bagian bangunan yang kurang layak lainnya juga menjadi sasaran untuk diperbaiki agar keluarga dapat menjalankan aktivitas sehari-hari dengan lebih tenang.Bagi Maryam dan keluarganya, rumah yang lebih kokoh memberikan ruang yang lebih aman untuk beristirahat, berkumpul dan menjalani kegiatan sehari-hari.
Ditemui secara terpisah Kepala bidang Perumahan Rakyat dan Permukiman DLH-Perkim Kabupaten Sampang, Abdul Rokib mengatakan bahwa dukungan tersebut menjadi bagian penting dalam mempercepat penanganan rumah tidak layak huni.
“Dengan adanya bantuan dari Pemprov Jatim ini, kami yakin upaya menyediakan tempat tinggal yang layak huni oleh pemkab kepada warga bisa lebih cepat,” katanya.
Renovasi rumah tidak hanya mengubah kondisi fisik bangunan. Di dalam rumah yang lebih layak, anak-anak dapat belajar dengan lebih nyaman, orang tua dapat beristirahat dengan lebih tenang dan keluarga memiliki ruang yang lebih baik untuk menjalani kehidupan.

Foto :Pembangunan RTLH di Kabupaten Sampang.
Sekolah dan Harapan yang Ditumbuhkan
Di bagian lain di wilayah Madura, tepatnya di kabupaten Bangkalan Desa Tlomar, Kecamatan Tanah Merah, personel Kodim 0829/Bangkalan bersama masyarakat mengerjakan rehabilitasi SDN Tlomar 2. Pekerjaan tersebut diharapkan segera memberikan perubahan pada ruang belajar anak-anak di desa itu lebih aman dan nyaman.
Di setiap sudut bangunan sekolahan sejumlah prajurit bersama warga mengerjakan bagian-bagian yang membutuhkan pembenahan. Ada yang mengerjakan memasang plafon, plamir, merabat lantai, hingga membenahi keramik. Pekerjaan tersebut dilakukan secara bergantian dan bergotong royong sesuai kebutuhan di lapangan.
Suasana semakin bertambah harmoni ketika canda tawa saat aktivitas konstruksi berlangsung. Di antara pekerjaan dan percakapan para prajurit dengan warga sesekali terdengar sangat antusias dalam menjalani setiap tahapan dalam pembangunan tersebut. Mereka bekerja untuk menyelesaikan ruang belajar yang setiap hari digunakan anak-anak Desa Tlomar.
SDN Tlomar 2 merupakan tempat anak anak belajar dan bermain, bertemu dengan teman-temannya. Sekolah bukan hanya sekedar bangunan fasilitas pendidikan melainkan pintu gerbang untuk mengenal dunia yang lebih luas. Kondisi bangunan sekolah harus menjadi perhatian bersama. Ruang kelas yang lebih nyaman diharapkan membantu anak-anak mengikuti pelajaran dengan baik,sementara guru dapat mengajar tanpa terganggu oleh kondisi fasilitas yang kurang memadai.
“Yang kami bangun bukan hanya sekolah, tetapi juga harapan masyarakat. Kami ingin anak-anak belajar dengan lebih nyaman. Selama semangat gotong royong tetap terjaga, kami optimistis seluruh pekerjaan dapat selesai tepat waktu dan memberikan manfaat yang nyata bagi masyarakat,” tutur Serda Ali Muji Babinsa Desa Tlomar.
Bagi seorang guru, perubahan pada bangunan sekolah bukan hanya persoalan tampilan. Ruang kelas yang bersih dan aman membantu menciptakan suasana belajar yang lebih menyenangkan.
“Anak-anak tentu lebih senang belajar di ruang kelas yang bersih dan aman. Kami berterima kasih karena sekolah mendapat perhatian melalui program Bakti TNI AD ini,” ujar seorang guru SDN Tlomar 2.
Bagi anak-anak, perubahan itu terlihat dari ruang kelas yang perlahan menjadi lebih bersih dan nyaman. Setelah bangunan selesai dikerjakan di ruangan tersebut mereka akan kembali belajar menulis dan mengikuti kegiatan sekolah.
Pendidikan tidak hanya bergantung pada kondisi bangunan. Kualitas guru, dukungan orang tua, semangat siswa serta perhatian pemerintah dan masyarakat tetap menjadi faktor penting. Namun, fasilitas yang lebih layak dapat mendukung proses belajar berlangsung dengan lebih baik.

Foto :Rehabilitasi SDN Tlomar 2, Kabupaten Bangkalan.
Pelayanan Kesehatan bagi Warga Kebutuhan dasar manusia dalam kehidupan bermasyarakat tidak hanya berkaitan dengan pembangunan fisik saja. Dalam rangka meningkatkan kualitas sumber dayamanusia, Bakti TNI AD tahun ini juga memberikan jawaban melalui berbagai sasaran non fisik.
Kegiatan tersebut meliputi pemeriksaan dan pengobatan gratis, operasi katarak, khitanan massal, donor darah serta pemberian alat bantu. Kehadiran TNI diwujudkan melalui pelayanan yang langsung bersentuhan dengan kebutuhan warga.
Di kabupaten Sumenep, pelayanan kesehatan hadir melalui kegiatan screening operasi katarak gratis. Sejak pagi warga berdatangan untuk memeriksakan kondisi mata mereka. Ada yang mengalami gangguan penglihatan sehingga melakukan pemeriksaan untuk memastikan kondisi kesehatan matanya. Sementara yang lain memeriksakan berbagai macam keluhan kesehatan untuk mendapat kepastian dari kesehatannya.
Satu per satu warga diperiksa untuk mendeteksi gangguan kesehatannya sekaligus menentukan penanganan medis selanjutnya. Bagi warga yang selama ini mengalami kesulitan untuk mengakses dalam memeriksakan kesehatan, melalui kegiatan inilah menjadi kesempatan untuk memperoleh pengobatan tanpa biaya.
Pemeriksaan dilaksanakan di Aula Makodim Sumenep yang dipimpin langsung oleh tim dokter Denkesyah 05.04.04 Surabaya yang dipimpin Letkol Ckm dr. Yogi K. Lesmana, Sp.M., M.H. untuk mengindentifikasi sejak awal apakah mengalami katarak atau jenis penyakit mata lainnya.
‘’Seluruh peserta menjalani pemeriksaan menyeluruh guna mendeteksi gejala katarak sekaligus menentukan tindak lanjut pelayanan kesehatan’’ kata dr. Yogi.
Komandan Kodim 0827/Sumenep Letkol Inf Citra persada pada kesempatan yang sama di temui saat jumpa pers mengatakan bahwa kesehatan mata merupakan aspek penting yang sangat berpengaruh terhadap kualitas hidup dan dalam beraktivitas.
‘’Bakti TNI AD ini hadir untuk rakyat berupaya mengembalikan harapan masyarakat melalui pelayanan kesehatan dan screening ini menjadi langkah awal agar warga yang mengalami katarak bisa segera mendapatkan penanganan,’’ Ujarnya.

Foto :Screening Katarak di Makodim Sumenep.
Sementara di wilayah yang lain,selain pelayanan kesehatan juga dilaksanakan pemberian alat bantu dalam membantu warga yang mengalami keterbatasan dalam bergerak seperti Kursi Roda dan kaki palsu sehingga dapat digunakan untuk mendukung aktivitas sehari-hari, dapat berinteraksi lagi bahkan bisa melanjutkan dalam bekerja.
“Saya mengucapkan banyak terima kasih kepada pemerintah dan TNI AD. Bantuan ini sangat membantu. Kursi roda ini akan memudahkan saya beraktivitas dan tidak selalu bergantung kepada keluarga,” ujar salah seorang penerima bantuan.Dari sinilah semangat itu selalu terlihat dalam bentuk yang lebih dekat yang mereka rasakan bersama para prajurit yang hadir saat pelaksanaan pelayanan kesehatan kepada masyarakat.

Foto :Pembagian kursi roda dan kaki palsu di Kabupaten Sumenep.
Mempercepat Pemerataan
Pemerintah daerah memandang Bakti TNI AD untuk Rakyat sebagai dukungan strategis untuk mempercepat pemerataan pembangunan yang menjangkau wilayah yang membutuhkan perhatian lebih.
Bupati Bangkalan Lukman Hakim, S.IP., M.H. menilai bahwa keterlibatan TNI AD khususnya di Kodam V/Brawijaya memberikan dukungan nyata bagi pemerintah daerah dalam menjangkau kebutuhan masyarakat sampai ke pelosok desa.‘’Bakti TNI AD ini sangat membantu sekali pemerintah daerah dalam mempercepat pemerintah dalam pemerataan pembangunan khususnya di wilayah yang membutuhkan dukungan yang lebih besar’’ Ujar Bupati.
Menurutnya, pembangunan di Madura tidak dapat dilakukan dengan pendekatan yang seragam. Setiap kabupaten memiliki karakter geografis, kondisi sosial, potensi wilayah serta persoalan yang berbeda masing-masing daerah. Bangkalan misalnya memiliki karakter wilayah yang berdekatan dengan pusat pemerintahan provinsi jawa Timur. Sementara itu Sampang, Pamekasan dan Sumenep memiliki tantangan yang beragam., mulai dari kawasan pedesaan dan kepulauan hingga keterbatasan akses terhadap infrastruktur dasar dan layanan sosial.
Karena itu, setiap program harus disusun berdasarkan kondisi dan kebutuhan yang nyata bagi masyarakat. Pembangunan tidak hanya diarahkan pada kawasan perkotaan, tetapi juga menjangkau desa, wilayah terpencil, hingga kepulauan agar masyarakat memperoleh akses yang lebih merata.
‘’Pembangunan harus bisa menjawab kebutuhan masyarakat. Koordinasi lintas sektor antara TNI AD, pemerintah dan seluruh elemen bangsa lainnya harus terus dilakukan agar program yang dilaksanakan benar-benar memberi manfaat nyata bagi masyarakat,’’ tambahnya.
Keberadaan Babinsa di setiap desa sangat membantu dalam mengidentifikasi persoalan masyarakat. Melalui Babinsa banyak sekali kebutuhan warga dapat diketahui secara langsung, mulai dari kondisi rumah, fasilitas pendidikan, akses sarana air bersih, tempat ibadah hingga kebutuhan sosial lainnya.
Kehadiran TNI AD dalam kegiatan Bakti TNI AD untuk rakyat mendorong keterlibatan masyarakat bersama-sama prajurit bahu membahu dalam proses pembangunan. Suasana gotong royong membantu untuk mempercepat pekerjaan dan membuat warga merasa ikut bertanggung jawab terhadap fasilitas yang dibangun.
Pemerintah daerah sangat menyambut baik dan mengapresiasi kerja bersama oleh seluruh elemen yang ikut dalam kegiatan bakti TNI AD tersebut. Pemerintah memiliki kebijakan dan perencanaan, TNI AD memiliki kemampuan teritorial dan personel, sementara masyarakat ikut bersama-sama ikut membantu dan memahami kebutuhan lingkungannya.
Keberhasilan program Bakti TNI AD akan terlihat dari manfaat yang dirasakan oleh warga dengan terbukanya akses yang lebih baik, sarana fasilitas pendidikan yang lebih nyaman, rumah yang layak huni, air bersih yang tersedia serta pelayanan kesehatan yang lebih dekat.

Foto :Pembukaan Bakti TNI AD untuk Rakyat tahun 2026
Membangun Kepercayaan
Wilayah Madura termasuk dalam teritorial Kodam V/Brawijaya dan lebih spesifik di bawah komando satuan teritorial Korem 084/Bhaskara Jaya. Di bawah kepemimpinan Komandan Korem 084/Bhaskara Jaya, Brigjen TNI Kohir Bakti TNI AD Tahun 2026 menjadi bukti nyata hadir dalam membantu kesulitan masyarakat di pulau Madura. Dengan letak geografis dan budayanya yang khas, Madura membutuhkan pendekatan yang disesuaikan dengan persoalan setiap wilayahnya. Dalam pelaksanaan Bakti TNI AD diarahkan pada sasaran yang memberikan manfaat langsung kepada masyarakat, mulai dari pembangunan infrastruktur dasar hingga pelayanan sosial dan kesehatan.
Menurut Danrem program tersebut menjadi wujud sinergi antara TNI AD, pemerintah daerah dan masyarakat. Keberhasilan kegiatan tersebut akan terlihat oleh kesiapan prajurit, dukungan pemerintah dan keterlibatan masyarakat serta dampaknya sejauh mana manfaat yang dirasakan oleh masyarakat.
‘’Kegiatan Bakti TNI AD untuk rakyat ini merupakan wujud nyata sinergi antara TNI AD, Pemerintah daerah dan seluruh komponen masyarakat. Melalui kebersamaan dan semangat gotong royong, kita ingin menghadirkan manfaat nyata yang dirasakan langsung oleh masyarakat,’’ ujar Brigjen Kohir.
Program tersebut diwujudkan melalui pembangunan jembatan, sumur bor, rehabilitasi rumah tidak layak huni, sekolah dan tempat ibadah serta pelayanan kesehatan dan kegiatan sosial. ‘’kami ingin memastikan seluruh pekerjaan berlangsung dengan baik dan memberi manfaat jangka panjang. Kehadiran TNI AD harus mampu menjadi solusi bagi kebutuhan masyarakat melalui pembangunan yang berkualitas dan berkelanjutan,’’ tegasnya.
Melalui interaksi yang terjalin antara prajurit dan masyarakat selama pelaksanaan Bakti TNI AD juga membuka ruang dialog untuk memahami persoalan secara langsung. Warga menyampaikan apa yang menjadi kebutuhan mereka dan prajurit di lapangan dapat menyaring untuk disampaikan kepada pemerintah berbagai kesulitan yang mereka hadapi untuk segera direspon oleh pemerintah.
‘’Wilayah yang memiliki akses lebih baik akan memiliki peluang berkembang lebih besar. Bakti TNI AD ini harus dilaksanakan dengan sungguh-sungguh’’ tambahnya.Bakti TNI AD ini berhasil bukan terletak seberapa banyak bangunan yang berhasil dikerjakan, tetapi bagaimana hubungan kerjasama selama proses kegiatan berlangsung. Ketika prajurit bersama masyarakat bergotong royong dalam membangun kepercayaan sehingga menjadi jembatan dalam kemanunggalan TNI dan rakyat

Foto :Kunjungan Danrem 084/Bhaskara Jaya.
Foto :Kunjungan Danrem 084/Bhaskara Jaya.
Sinergi untuk Jawa Timur
Pembangunan yang dilaksanakan di Madura menjadi bagian dari gerak langkah pembangunan yang lebih luas di Jawa Timur. Bakti TNI AD ini menjadi salah satu bukti nyata tidak hanya mempertemukan prajurit dengan masyarakat di lokasi sasaran tetapi juga mempertemukan berbagai kekuatan yang memiliki kepentingan yang sama yaitu menghadirkan pembangunan yang lebih merata dan meningkatkan kualitas kehidupan masyarakat.
Gubernur Jawa Timur Dr. (H.C.) Dra. Hj. Khofifah Indar Parawansa, M.Si. melihat Bakti TNI AD di Madura sebagai momentum yang tepat untuk mempercepat dalam pembangunan kawasan yang masih menghadapi tantangan pada sektor infrastruktur, permukiman, pelayanan dasar dan kesejahteraan masyarakat. Menurutnya, kekuatan utama program tersebut terletak pada sinergi dan kegotongroyongan yang melibatkan berbagai unsur, mulai dari pemerintah, TNI, Polri, dunia usaha, akademisi, organisasi kemasyarakatan, relawan hingga masyarakat.
“Bakti TNI AD di Madura ini sangat luar biasa. Kegiatan ini menjadi momentum untuk memperkuat sinergi, kolaborasi dan kegotongroyongan di semua lini, semua level dan seluruh elemen. Terima kasih kepada Pak Pangdam beserta seluruh jajaran,” ujar Khofifah.
Kerja bersama antara Pemerintah Provinsi Jawa Timur dan Kodam V/Brawijaya bukanlah sesuatu yang baru. Sinergi keduanya telah terjalin melalui berbagai program yang menyentuh langsung kehidupan masyarakat, salah satunya renovasi rumah tidak layak huni yang telah berlangsung sejak 2009. Khofifah menjelaskan, hingga 2025 sebanyak 154.399 unit RTLH telah direnovasi dengan dukungan anggaran lebih dari Rp1,24 triliun. Pada tahun 2026 ini sasarannya mencapai 1.700 unit RTLH di wilayah Kodam V/Brawijaya, termasuk 377 unit yang tersebar di empat kabupaten di Madura.
Dari capaian tersebut bukan hanya sekedar angka. Di balik setiap rumah yang direnovasi, ada keluarga yang mendapatkan tempat tinggal lebih layak, lingkungan yang lebih sehat serta rasa aman dan nyaman untuk menjalani kehidupan sehari-hari. Bagi Khofifah, kesinambungan kerja bersama inilah yang dapat menghadirkan multiplier effect, karena pembangunan yang dilakukan secara konsisten akan membuka dampak yang lebih luas bagi kualitas hidup dan kesejahteraan masyarakat.
“Kolaborasi panjang ini membuktikan bahwa sinergi Pemprov Jawa Timur dan Kodam V/Brawijaya tidak hanya memperbaiki rumah masyarakat, tetapi juga meningkatkan kesehatan, rasa aman serta kualitas hidup keluarga penerima manfaat,” ujarnya.
Pembangunan tidak ditempatkan sekadar sebagai pekerjaan fisik, tetapi diarahkan untuk menjawab kebutuhan yang ditemukan di tengah masyarakat. Pemerintah daerah membuat kebijakan dan kebutuhan pembangunan, TNI AD menghadirkan personel serta kemampuan teritorial, sementara masyarakat menjadi bagian penting dalam menentukan sekaligus mengawal manfaat pembangunan.
Dari titik temu itulah, sebuah program pembangunan berubah menjadi kerja bersama. Bukan hanya tentang apa yang dibangun, tetapi tentang bagaimana pembangunan tersebut benar-benar hadir dalam kehidupan masyarakat dan memberi perubahan yang dapat dirasakan dalam jangka panjang.
Pengabdian kepada Rakyat.
Pangdam V/Brawijaya Mayjen TNI Rudy Saladin, M.A., menyampaikan bahwa Bakti TNI AD untuk rakyat di Madura merupakan wujud nyata pengabdian kepada bangsa dan negara sekaligus sebagai implementasi dari pelaksanaan Operasi Militer Selain Perang dalam membantu pemerintah mengatasi kesulitan masyarakat. Kehadiran prajurit diarahkan untuk membantu mempercepat pembangunan, meningkatkan kesejahteraan dan memberikan manfaat yang dapat dirasakan langsung oleh masyarakat.
“Kami hadir membantu Pemerintah Daerah untuk mempercepat pembangunan dalam mengatasi berbagai kesulitan masyarakat. Tahun ini di Pulau Madura adalah bukti bahwa TNI dan rakyat bukan sekadar semboyan, tapi pengabdian yang berorientasi pada kebutuhan dan dirasakan manfaatnya oleh masyarakat,” ujar Pangdam.
Pengabdian tersebut kemudian diwujudkan melalui berbagai sasaran pembangunan fasilitas yang menyentuh kebutuhan sehari-hari warga. Sebanyak 33 jembatan dibangun untuk membuka akses, 52 sumur bor disiapkan guna memenuhi kebutuhan air, sementara 400 rumah tidak layak huni direnovasi beserta fasilitas MCK. Rehabilitasi 12 sekolah, pembangunan 20 rumah ibadah dan dukungan bagi empat panti asuhan turut melengkapi sasaran fisik yang tersebar di empat kabupaten di Madura.
Pembangunan itu tidak berhenti pada sarana dan prasarana. Kehadiran TNI AD juga menyentuh sisi kehidupan sosial masyarakat melalui layanan kesehatan seperti operasi katarak dan bibir sumbing, khitanan massal, donor darah, bakti lingkungan, bantuan mesin irigasi, penanaman 2.000 pohon trembesi serta pemberian kaki palsu dan kursi roda.
Berbagai kegiatan tersebut memperlihatkan bahwa kebutuhan masyarakat memiliki wajah yang beragam. Ada warga yang membutuhkan akses untuk membuka aktivitas ekonomi, keluarga yang memerlukan rumah lebih layak, masyarakat yang membutuhkan air bersih, hingga mereka yang membutuhkan pelayanan kesehatan dan bantuan untuk kembali menjalani kehidupan secara lebih mandiri.
Di situlah pembangunan fisik dan nonfisik saling melengkapi. Jembatan, sumur, rumah, sekolah dan tempat ibadah memperbaiki lingkungan kehidupan masyarakat, sementara pelayanan kesehatan dan kegiatan sosial menyentuh langsung kualitas hidup warganya. Keduanya bermuara pada tujuan yang sama, yakni menghadirkan perubahan yang benar-benar dirasakan masyarakat.
Bagi TNI AD, pekerjaan tersebut menjadi ruang untuk memperkuat kedekatan dengan rakyat. Prajurit hadir bukan hanya melalui tenaga dan kemampuan yang dimiliki, tetapi juga melalui komunikasi, gotong royong dan kepedulian bersama, sehingga masyarakat tidak sekadar menjadi penerima manfaat, melainkan turut mengambil bagian dalam pembangunan di lingkungannya.
Pada akhirnya, Bakti TNI AD di Madura tidak hanya meninggalkan bangunan dan fasilitas yang dapat dilihat, tetapi juga menghadirkan akses yang lebih terbuka, kehidupan yang lebih layak, pelayanan yang lebih dekat serta harapan baru bagi masyarakat. Di situlah pengabdian TNI menemukan maknanya, yakni hadir bersama pemerintah dalam menjawab kebutuhan rakyat, membuka ruang bagi kemajuan, meningkatkan kesejahteraan, sekaligus memperkuat ketahanan wilayah.
Denyut Pengabdian yang Terus Berjalan
Selama dua bulan dari tanggal 1 Juli hingga 31 Agustus 2026 pelaksanaan Bakti TNI AD berjalan dengan efektif, aman dan lancar. Prajurit TNI AD bahu membahu bekerja bersama masyarakat di empat kabupaten di Madura. Dari desa ke desa, pekerjaan dilakukan untuk menjawab kebutuhan yang selama ini dekat dengan kehidupan warga, mulai dari akses jalan dan air bersih hingga tempat tinggal, pendidikan, kesehatan dan lingkungan.
Tidak hanya jembatan yang dapat dilalui, sumur bor yang menghadirkan sumber air atau rumah-rumah yang kembali menjadi tempat tinggal yang lebih layak. Di balik setiap pekerjaan terdapat kehidupan yang perlahan bergerak lebih mudah. Ada warga yang dapat menjangkau wilayah lain dengan lebih cepat, keluarga yang memiliki tempat tinggal lebih aman, anak-anak yang memperoleh ruang belajar lebih nyaman dan masyarakat yang mendapatkan pelayanan kesehatan lebih dekat.
Di antara pekerjaan tersebut juga dilaksanakan penanaman 2.000 pohon trembesi. Tidak seperti jembatan atau rumah yang hasilnya dapat segera terlihat, pohon-pohon itu membutuhkan waktu untuk tumbuh. Namun, justru di sanalah tersimpan pesan tentang keberlanjutan. Apa yang ditanam hari ini mungkin belum memberikan manfaat besar, tetapi kelak dapat menghadirkan udara yang lebih baik, lingkungan yang lebih teduh dan ruang hidup yang lebih hijau bagi generasi berikutnya.
Begitu pula pelayanan kesehatan dan kegiatan sosial yang menjadi bagian dari Bakti TNI AD. Operasi kesehatan, khitanan massal, donor darah, pemberian kaki palsu dan kursi roda serta berbagai kegiatan lainnya menghadirkan manfaat yang tidak selalu dapat diukur dengan angka. Bagi penerimanya, bantuan tersebut dapat berarti kesempatan untuk kembali beraktivitas, memperoleh kesehatan yang lebih baik atau menjalani kehidupan dengan lebih percaya diri.
Bakti TNI AD untuk rakyat ini menemukan maknanya. Pembangunan fisik menyediakan ruang dan akses, sementara kegiatan non fisik menyentuh manusia yang berada di dalamnya. Keduanya berjalan beriringan untuk menghadirkan perubahan yang lebih utuh, bukan hanya memperbaiki tempat tinggal dan lingkungan, tetapi juga membantu meningkatkan kualitas kehidupan masyarakat.
Namun, setiap pembangunan memiliki perjalanan setelah pekerjaan selesai. Jembatan akan terus dilalui, sumur akan terus digunakan, sekolah akan kembali dipenuhi aktivitas belajar, rumah akan menjadi tempat keluarga menjalani kehidupan, dan pohon-pohon yang ditanam akan tumbuh bersama waktu. Semua itu membutuhkan tangan masyarakat untuk merawatnya agar manfaat yang telah dibangun tidak berhenti pada saat kegiatan berakhir.
Karena itu, hasil terbesar dari Bakti TNI AD selama dua bulan tersebut terletak pada nilai perubahan yang kemudian terus bergerak di tengah kehidupan masyarakat. Ketika akses semakin mudah, air semakin tersedia, rumah menjadi lebih layak, anak-anak belajar dalam ruang yang lebih baik, dan warga memperoleh pelayanan kesehatan, di situlah pembangunan mulai menemukan arti sebenarnya.
Dari Madura, pengabdian itu meninggalkan jejak yang tidak berhenti ketika prajurit kembali. Denyut kehidupan akan terus berjalan dari jembatan yang dilalui, air yang digunakan, rumah yang dihuni, sekolah tempat anak-anak menuntut ilmu, pohon yang tumbuh dan kehidupan. Itulah denyut pengabdian yang terus hidup dari kerja bersama hari ini, menuju harapan yang tumbuh untuk hari esok menjadi lebih baik.
Daftar Sumber
Materi pelaksanaan Bakti TNI AD Tahun 2026, keterangan satuan jajaran Kodam V/Brawijaya, pemerintah daerah, masyarakat penerima manfaat dan dokumentasi kegiatan.
Tidak ada komentar