
Indobangkit.com MOJOKERTO — Insiden yang diduga merupakan bentuk intimidasi terhadap seorang jurnalis menjadi sorotan publik. Peristiwa ini diduga terjadi saat kegiatan NasDem Bersholawat dalam rangka memperingati Hari Santri Nasional 2026 sekaligus HUT ke-15 Partai NasDem, yang digelar pada Sabtu malam (31/10/2026) di kediaman H. Khoirul Amin, S.Sos., Desa Ngabar, Kecamatan Jetis, Kabupaten Mojokerto.
Seorang jurnalis yang sedang menjalankan tugas peliputan mengaku menerima perlakuan tidak pantas dari H. Khoirul Amin, S.Sos., yang akrab disapa Gus Amin. Ucapan yang diduga dilontarkan dengan nada tinggi dan membentak berbunyi:
“PANCET AE RONO-RONO, METU KONO LOE!”
Disertai gestur tangan berulang kali yang dinilai seperti mengusir seseorang secara kasar. Jurnalis tersebut menyatakan hanya sedang menjalankan tugas mendokumentasikan kegiatan terbuka yang dihadiri masyarakat dan pejabat daerah. Kurang lebih sembilan media online juga hadir di lokasi.
Ironisnya, kegiatan yang mengusung nilai religius, persaudaraan, dan kebersamaan justru diwarnai perlakuan yang dinilai tidak mencerminkan sikap menghargai profesi pers.
Masyarakat mulai menyoroti perjalanan hidup Gus Amin. Warga mengingatkan: ia lupa bahwa dulunya ia bukan siapa-siapa. Duduk di kursi anggota DPRD pun semuanya dibiayai oleh Romo Yai Asep, bukan dari kekayaannya sendiri. Dikisahkan, Gus Amin mendekati dan mendekati Romo Yai Asep, hingga akhirnya utang-utangnya dibantu dilunasi dan ia pun dicalonkan sebagai anggota DPRD. Tujuannya satu: untuk mengabdi kepada masyarakat, bukan untuk bermegah-megah dan bersikap sombong.
Kini, banyak warga Desa Ngabar yang juga mulai tidak nyaman dengan sikap kesombongannya. Salah satu warga dari lingkungan RT 07/RW 03 yang meminta namanya tidak dipublikasikan, menceritakan pengalamannya: warga tersebut tergolong sangat kurang mampu dan meminta bantuan kepada Gus Amin untuk mengurus BPJS Kesehatan melalui program Bupati Gus Barra yang dibiayai pemerintah. Namun, Gus Amin hanya menjawab “iya-iya” saja tanpa pernah benar-benar menindaklanjutinya. Warga tersebut akhirnya meminta bantuan kepada pihak lain, dan alhamdulillah berhasil berobat secara gratis berkat bantuan orang lain — bukan melalui Gus Amin.
Warga merasa kecewa, karena dahulu warga dan keluarga tokoh agama tersebut membantu mati-matian agar Gus Amin bisa terpilih menjadi anggota DPRD. Tujuannya jelas: agar ia bisa mengabdi dan membantu kepentingan rakyat, bukan sekadar memamerkan kesombongan dan menyampaikan janji-janji yang tidak ditepati.
Tindakannya yang dinilai kurang pantas ini tidak hanya mengecewakan warga, tetapi sama halnya dengan mencoreng nama baik Romo Yai Asep yang telah tulus membiayai, membimbing, dan mendukungnya hingga bisa maju dalam dunia politik.
Kehadiran awak media di lokasi kegiatan terbuka dilindungi oleh UU No. 40 Tahun 1999 tentang Pers. Pasal 18 ayat (1) mengatur sanksi bagi pihak yang secara melawan hukum menghambat pelaksanaan fungsi pers. Namun demikian, penetapan pelanggaran memerlukan pemeriksaan menyeluruh terhadap kronologi, bukti, dan keterangan para pihak.
Kegiatan dimulai sekitar pukul 19.30 WIB dan dihadiri:
Hingga berita ini disusun, belum ada tanggapan resmi dari H. Khoirul Amin. Publik menuntut klarifikasi terbuka dan langsung terkait ucapan serta gestur yang dipersoalkan, sekaligus penjelasan atas keluhan-keluhan yang disampaikan warga. Masyarakat berharap:
Menghormati kebebasan pers bukan sekadar etika, melainkan bagian dari demokrasi dan keterbukaan informasi publik. Publik berharap persoalan ini diselesaikan secara terbuka dan profesional.
Kami para jurnalis sekaligus masyarakat menyampaikan permohonan yang tulus dan terbuka kepada Romo Yai Asep.
Mohon Romo berkenan memberikan pernyataan sikap yang tegas dan terbuka, sekaligus menegur serta mengingatkan kembali Cak Amin — H. Khoirul Amin — agar ia sadar siapa dirinya sebelum duduk sebagai anggota DPRD Kabupaten Mojokerto.
Seluruh elemen masyarakat mengetahui bahwa keberadaannya di kursi legislatif adalah karena dukungan dan pembiayaan dari Romo Yai Asep. Tujuan Romo mencalonkannya sangat mulia: agar ia mengabdi kepada masyarakat Kabupaten Mojokerto dan membantu pemerintahan Bupati Gus Barra — bukan untuk bersikap sombong, melupakan asal-usul, dan mengabaikan rakyat yang membutuhkan pertolongan.
Sikap yang ditunjukkan Cak Amin saat ini sangatlah keliru. Perlakuan mengintimidasi jurnalis, janji yang tidak ditepati kepada warga yang membutuhkan bantuan, serta sikap kesombongan yang semakin terlihat di mata masyarakat — hal ini sangat berkaitan erat dengan nama baik Romo Yai Asep dan lembaga yang Romo pimpin.
Oleh karena itu, kami memohon:
Kami yakin niat baik Romo Yai Asep adalah murni untuk kepentingan rakyat. Jangan sampai niat yang mulia ternoda oleh sikap yang tidak mencerminkan pelayanan kepada masyarakat. Semoga teguran dan nasihat dari Romo dapat membuka kembali hati nurani Cak Amin, sehingga ia kembali menjalankan amanah ini dengan rendah hati, tulus melayani masyarakat, dan senantiasa ingat dari mana ia berasal.
Karena kekuasaan dan kedudukan itu adalah amanah – bukan alat untuk bersikap angkuh.
Tidak ada komentar