Efek Domino Berhentinya Operasional Bandara Dhoho Kediri: Investor Kabur, Warga Lokal Menganggur

waktu baca 2 menit
Rabu, 8 Okt 2025 06:30 0 49 Mei Swandini

Indobangkit.com Kediri – Berhentinya operasional Bandara Dhoho Kediri selama beberapa bulan terakhir memicu efek domino yang cukup serius terhadap perekonomian lokal. Sejumlah investor menarik diri, pelaku usaha gulung tikar, dan warga sekitar kehilangan mata pencaharian.

Bandara yang sempat digadang sebagai simbol kemajuan Kediri Raya ini resmi beroperasi pada April 2024 dengan konsep kemitraan publik-swasta yang melibatkan PT Gudang Garam Tbk. Namun sejak pertengahan 2025, aktivitas penerbangan di bandara berhenti total tanpa kejelasan kapan akan dibuka kembali.

Akibatnya, berbagai sektor ekonomi yang sebelumnya tumbuh di sekitar kawasan bandara kini mengalami kemunduran drastis. Banyak warung, toko, hingga tempat usaha kecil menutup lapak karena sepi pengunjung. “Semenjak bandara tidak beroperasi, kami kehilangan pelanggan. Dulu banyak penumpang yang mampir, sekarang sepi,” ujar seorang pedagang di Kecamatan Grogol, Rabu (8/10/2025).

Selain sektor usaha, dampak sosial juga terasa. Puluhan warga dari beberapa desa di sekitar kawasan bandara seperti Grogol, Banyakan, dan Tarokan mengaku kehilangan pekerjaan. Mereka sebelumnya bekerja di sektor pendukung, mulai dari kebersihan, transportasi, hingga layanan logistik bandara. Kini, sebagian besar terpaksa kembali menjadi buruh harian.

Dari sisi investasi, penghentian operasional Bandara Dhoho juga membuat sejumlah calon investor membatalkan rencana ekspansi. “Ini menjadi sinyal negatif bagi pelaku usaha. Ketika infrastruktur utama seperti bandara tidak beroperasi, kepercayaan investor menurun,” kata salah satu pengamat ekonomi lokal.

Penurunan minat investasi juga berdampak pada sektor pariwisata. Hotel, restoran, dan penyedia transportasi lokal kehilangan pengunjung karena berkurangnya arus penumpang pesawat. Aktivitas wisata yang semula diharapkan menggeliat melalui akses udara kini kembali lesu.

Beberapa analis menilai, penghentian operasional Bandara Dhoho mencerminkan lemahnya perencanaan dan koordinasi antar pihak. Minimnya dukungan dari pemerintah daerah dan rendahnya frekuensi penerbangan membuat bandara belum mencapai skala ekonomi yang ideal. Di sisi lain, masyarakat masih lebih memilih jalur darat atau bandara lain yang memiliki jadwal penerbangan lebih padat.

Pemerintah daerah dan pengelola diminta segera mencari solusi agar Bandara Dhoho kembali beroperasi, setidaknya secara bertahap. Insentif bagi maskapai, promosi wisata lokal, serta pelatihan bagi warga terdampak menjadi langkah yang disarankan untuk memulihkan kondisi ekonomi di kawasan tersebut.

Jika tidak segera diatasi, kekhawatiran bahwa Bandara Dhoho akan menjadi “bandara hantu” semakin kuat. Padahal, infrastruktur ini dibangun dengan harapan besar untuk membuka isolasi wilayah selatan Jawa Timur dan mempercepat pertumbuhan ekonomi kawasan Kediri Raya.

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

    LAINNYA