
Indobangkit.com MALANG,
Desa Argoyuwono, Kecamatan Ampelgading, Kabupaten Malang, terus menapaki pembangunan dengan pendekatan yang tenang, terukur, dan berpijak pada kebutuhan riil masyarakat. Berada di wilayah perbukitan dengan karakter geografis khas, desa ini menempatkan pembangunan infrastruktur, penguatan ekonomi warga, dan kohesi sosial sebagai fondasi utama.
Di bawah kepemimpinan Kepala Desa Purnowo, Argoyuwono tumbuh dengan gaya kepemimpinan yang membumi dan komunikatif. Bagi insan media dan pelaku jurnalistik, Purnowo dikenal sebagai figur yang terbuka, egaliter, dan menganggap media sebagai saudara seperjalanan dalam menjaga nalar publik serta arus informasi yang berimbang.
“Di desa ini, media bukan tamu. Media adalah saudara. Tidak ada sekat, tidak ada jarak. Semua bisa berdialog secara terbuka,” menjadi prinsip yang kerap disampaikan dalam berbagai kesempatan.
Pembangunan infrastruktur desa menjadi salah satu fokus utama pemerintah desa dalam periode terakhir. Sejumlah kegiatan dilaksanakan untuk menunjang aktivitas warga, di antaranya pembangunan dan peningkatan jalan lingkungan serta jalan usaha tani, rabat beton, perbaikan drainase, serta pemeliharaan sarana umum desa. Infrastruktur tersebut dirancang untuk memperlancar mobilitas warga, menekan biaya produksi pertanian, dan meningkatkan konektivitas antardusun.
Sebagai desa agraris, Argoyuwono tetap menjadikan sektor pertanian dan peternakan sebagai denyut utama ekonomi warga. Pemerintah desa mendorong penguatan kelompok tani dan peternak, optimalisasi lahan produktif, serta pengelolaan sumber daya alam yang berkelanjutan, agar pembangunan tidak memutus akar ekonomi masyarakat.
Dalam aspek tata kelola, Desa Argoyuwono dikenal menjalankan pemerintahan yang terbuka dan komunikatif. Musyawarah desa, pelibatan Karang Taruna, PKK, tokoh masyarakat, dan pemuda dijadikan ruang bersama untuk merumuskan arah pembangunan. Transparansi diposisikan sebagai kebutuhan, bukan sekadar kewajiban administratif.
Dalam konteks hubungan dengan media, pemerintah desa menegaskan sikap terbuka terhadap kritik dan pemberitaan. Oleh karena itu, apabila di kemudian hari muncul dinamika atau perbedaan pandangan antara pemerintah desa dan pihak media, pemerintah desa memandang hal tersebut lebih sebagai ruang klarifikasi dan komunikasi, bukan konflik. Dengan pola komunikasi yang terbuka dan tanpa sekat, pemerintah desa meyakini bahwa hubungan yang sehat dengan media justru menutup ruang bagi kesalahpahaman yang tidak perlu.
Prinsip ini sekaligus menegaskan bahwa Desa Argoyuwono tidak anti kritik, namun mengedepankan etika jurnalistik, profesionalisme, dan dialog terbuka sebagai fondasi hubungan yang saling menghormati antara desa dan insan pers.
Dengan kondisi geografis pegunungan, desa juga memberi perhatian pada keseimbangan lingkungan dan ketahanan desa. Kesadaran kolektif masyarakat dalam menjaga alam, sumber air, serta kesiapsiagaan terhadap potensi risiko lingkungan menjadi bagian dari kultur hidup warga Argoyuwono.
Desa Argoyuwono hari ini adalah potret desa yang membangun bukan dengan gaduh, melainkan dengan ketekunan. Di bawah kepemimpinan Kepala Desa Purnowo, pembangunan dijalankan secara rasional, partisipatif, dan komunikatif, termasuk dengan insan media yang diposisikan sebagai mitra, bukan pihak yang berjarak.
Argoyuwono membuktikan bahwa kekuatan desa tidak hanya terletak pada proyek dan anggaran, tetapi pada kepemimpinan yang dekat, masyarakat yang dilibatkan, serta keterbukaan informasi yang dijaga dengan etika, profesionalisme, dan rasa saling menghormati.(Bnc)
Tidak ada komentar